Tokyo Dogs Ep. 10 / FINAL

Kepolisian berhasil menggagalkan transaksi narkoba yang digagas Jinno and the genk. Tapi semua itu ternyata hanyalah kamuflasi, pengalih perhatian. Karena Jinno sendiri ternyata punya rencana lain.
Sou dan Maruo kembali ke rumah sakit tempat Kaizaki dirawat setelah Maruo mendapat kabar dari Horikawa tentang Kaizaki. Ternyata Kaizaki dibunuh oleh Jinno.
“Ini semua jebakan!” gumam Sou geram.
Tiba-tiba Sou mendapat telepon. Ternyata dari dokter Yuri.
“Ini aku, Yuri. Aku akan memberikan teleponnya pada Yuki-chan,” ucap dokter Yuri.
Sebelum Jinno datang untuk membunuh Kaizaki, Yuki lebih dulu menemui Kaizaki. Yuki meminta Kaizaki untuk menggunakannya agar Jinno keluar. Tapi Kaizaki menolak.
“Untung saja kau bertemu dengan dokter Yuri. Apa kau tahu bahayanya perbuatanmu itu?!” Sou memuntahkah kekesalannya pada Yuki.
Yuki tertunduk merasa bersalah. Maki yang ikut membantu Yuki mencoba membelanya. Begitu pula dokter Yuri, ia meminta Sou agar tidak menyalahkan Yuki.
“Maaf, sepertinya ada banyak yang harus dibicarakan. Sebaiknya kalian pulang saja,” pinta Maruo pada dokter Yuri dan Maki.
Setelah Maki dan dokter Yuri pergi, Yuki yang kesal beranjak ke kamarnya.
“Tadi Jinno datang, dan membunuh Kaizaki,” ucap Sou kemudian.
Yuki kaget dengan ucapan Sou, tapi tidak berkomentar apa-apa. Ia lalu masuk ke kamarnya. Yuki termenung sendiri. Sementara itu di luar, Sou dan Maruo pun masih berdiri mematung.
Detective Mikami dari kepolisian NYPD datang bersama anak buahnya. Ia dan anak buahnya akan bergabung dengan tim investigasi khusus dalam perburuan menangkap Jinno. Chef Ootomo memperkenalkan detective Mikami bersama anak buahnya pada tim investigasi khusus.
“Jinno adalah target kami di NY. Jadi mulai sekarang kita akan bekerja sama dan berbagi informasi tentang dia. Dan lagi . . . Takakura, kejadian di NY bukan kesalahanmu. Aku tidak sebaiknya memberikan tanggung jawab sebesar itu padamu,” ucap detective Mikami pada Sou.
Sou memandang atasannya itu dengan tatapan tidak suka. Sepertinya kedua detective ini memang tidak akur, bahkan sejak masih berada di NYPD.
Meeting membahas langkah selanjutnya dalam perburuan Jinno dan sindikatnya digelar. Kali ini detective Mikami sendiri yang memimpin meeting, didampingi chef Ootomo.
Sementara itu di belakang, Maijima-san dan personil tim investigasi khusus berbisik-bisik. Mereka membicarakan detective Mikami dan anak buahnya yang datang langsung dari NYPD itu.
Atas perintah detective Mikami, Yuki kemudian dibawa dan ditempatkan di apartemen khusus di bawah perlindungan NYPD. Detective Mikami hanya mengijinkan dokter Yuri sebagai dokternya saja, dan tidak mengijinkan personil tim investigasi khusus kepolisian Jepang untuk ikut campur.
“Tapi kau tidak bisa bertindak seenaknya begini! Belum tentu Yuki-chan mau untuk tinggal disini!” protes Maruo.
“Tapi ini perintah!” balas detective Mikami tidak mau kalah.
“Sudah, aku akan baik-baik saja disini,” Yuki mencoba melerai.
“Tapi . . . !” Maruo masih protes.
“Baik, aku mengerti. Ayo Maruo, kita pergi!,” Sou menyeret Maruo keluar dari apartemen itu. Sou tidak menggubris protes Maruo.
Di tempat lain . . .
Salah satu bos mafia Amerika, Rossi datang ke Jepang. Ia menghubungi Jinno yang ternyata saat ini berada di Jepang.
“Bos, ada telepon dari Rossi,” ucap anak buah Jinno.
“Apa kau yakin ini akan aman?” Tanya Rossi to the point.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mengatur semuanya,” jawab Jinno santai.
Rossi memutus sambungan telepon. Ia tersenyum lega. Belum jelas apa motif Rossi datang ke Jepang.
Di seberang, Jinno juga meletakkan teleponnya. Ia bergumam pelan, “Ini baru saja dimulai.”
Malamnya, tinggal Sou dan Maruo yang tinggal di apartemen. Dalam gelap, Sou berdiri di dapur. Ia memandang ke pintu kulkas. Ada selembar kertas tertempel di sana, tulisan Yuki “cara membuat omelet yang lembut”. Sou memandangi kertas itu.
Tiba-tiba Maruo yang keluar dari kamar berada di belakangnya. Kontan Sou langsung salting. Ia berusaha mengembalikan kertas catatan itu ke pintu lemari es, tapi malah terjatuh dan menjadi lucu.
“Berhentilah bersikap sok cool,” tegur Maruo.
“Apa yang kau bicarakan,” Sou beranjak dari dapur dan berjalan kembali ke kamarnya.
“Kau melihat catatan Yuki begitu seirus. Akui saja, kau merasa kesepian tanpa Yuki-chan kan?” tembak Maruo.
“Jangan katakan hal yang tidak penting seperti itu!” Sou masih saja mengelak. Ia akhirnya masuk ke kamar dan menutup pintu, membiarkan Maruo yang masih berdiri mematung memperhatikannya dari sisi dapur.
Tidak berbeda dengan Maruo dan Sou, Yuki yang sekarang sendirian di apartemen yang dijaga ketat oleh personil NYPD juga merasa kesepian. Ia memandang sekeliling, terasa hampa tanpa kehadiran SOu dan Maruo.
Yuki mengingat kenangan yang pernah mereka lewati bersama. Memancing bersama, makan malam bersama . . . tanpa sadar, perlahan rasa saling membutuhkan muncul diantara mereka bertiga. Tapi Yuki juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia akhirnya beranjak ke kamarnya, dengan rasa kehilangan dan kesepian yang sangat.
Hari berikutnya . . .
Detective Mikami datang membawa berita dan informasi baru. Meeting mendadak diadakan. Ada info kalau Rossi, salah satu bos mafia amerika datang ke jepang. Dan ada info lain mengenai akan adanya transaksi narkoba besar-besaran yang lain.
Tim langsung membagi tugasnya. Tidak ketinggalan Sou dan Maruo. Di depan detective Mikami, Sou mendadak kehilangan suaranya. Sepertinya ia merasa begitu rendah diri di depan atasannya di NYPD ini.
Sou, Maruo dan Shige menengok Horikawa di rumah sakit. Ia dirawat disana karena luka saat investigasi beberapa waktu sebelumnya. Ditemani kekasihnya, Maki, Horikawa semakin kerasan saja berlama-lama di rumah sakit.
Sou dan Maruo lalu pamit untuk kembali ke kantor. Tapi Horikawa menahannya, “Ah tunggu, jangan pergi dulu. Maki sudah menyiapkan banyak buah-buahan. Kalian, nikmatilah dulu,” pinta Horikawa.
Di sisi lain ruangan, tampak Maki yang sedang mengupas buah-buahan. Ia tiba-tiba menangis. Mau tidak mau Sou dan Maruo yang penasaran mendekat.
“Ia kesepian. Yuki-chan, dia kesepian berada sendirian disana, huaaaa . . . “ teriak Maki-chan.
“Apa maksudnya begitu?” Tanya Sou.
Maki tidak menjawab pertanyaan Sou. Ia masih menangis sambil berteriak. Horikawa yang malah merasa tidak enak dengan sikap kekasihnya ini pada yang lain.
“Sudahlah, eee . . . tidak usah dimasukkan dalam hati,” lerai Horikawa.
Ternyata Sou dan Maruo tidak kembali bersama. Maruo malah mendatangi apartemen tempat Yuki tinggal saat ini.
“Maruo!” Yuki senang dengan kedatangan Maruo.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Maruo.
“Hm,” Yuki mengangguk senang.
Mereka berdua akhirnya ngobrol, meski tidak lama. Maruo lalu kembali pulang. Di jalan, ia masih saja memikirkan Yuki. Sekarang Maruo mengerti, betapa sebenarnya Yuki sangat kesepian berada sendirian di apartemen itu.
Di apartemen …
Sou yang berada di kamar mendengar suara Maruo yang baru saja pulang. Ia keluar menemui Maruo.
“Ah Maruo, kau mau kopi? Aku buatkan kopi untukmu,” tawar Sou.
“Ah tidak usah. Aku tidak suka kopi,” elak Maruo lalu masuk ke kamarnya sendiri.
“Aku masuk. Ini kopimu. Minumlah!” Sou masih saja memaksa Maruo untuk minum kopi.
“Sudah kubilang, aku tidak suka kopi!” tegas Maruo. “Katakan saja, kau ingin tahu kabar Yuki-chan kan?” tembak Maruo kemudian.
“Tidak. Ah itu.” Sou masih pura-pura sok cool.
“Benar kan? Berhentilah pura-pura,” protes Maruo lagi.
Sou memilih keluar dari kamar Maruo. Ia masih saja tidak mau mengakui kalau ia penasaran dengan keadaan Yuki. Maruo tiba-tiba mendapat telepon dari kantor pusat. Sou yang masih mendengarkan kembali masuk ke kamar Maruo dan ikut mendengarkan. Keadaan mendadak berubah dengan cepat karena telepon itu.
“Cepat sekali dia berubah,” keluh Maruo kemudian melihat perubahan sikap Sou yang secepat kilat.
Sou dan Maruo mendapat tugas untuk mengintai Rossi di tempat tinggalnya selama ia berada di Jepang.
“Ah tidak terdengar apapun. Mereka sangat berhati-hati sekali,” keluh Maruo yang bertugas mendengarkan suara dari tempat tinggal Rossi.
Tiba-tiba telepon Sou bordering. Mau tidak mau, ia mengangkatnya. Ternyata itu dari ibunya.
“Sou-chan, ini mama,” ucap nyonya Takakura.
“Ini waktu yang buruk. Aku akan telepon balik dalam 20 menit,” pinta Sou.
“Tunggu! Tunggu dulu . . . “ nyonya Takakura tidak mau ditinggal.
Sou setengah hati tidak menutup teleponnya. Berkali-kali ia menengok ke belakang, takut kehilangan buruannya. Ia akhirnya mendengarkan keluhan ibunya.
Kali ini nyonya Takakura mengeluh soal tamagochi (hewan peliharaan elektronik) miliknya. Feces-nya belum dibersihkan, karena nyonya Takakura maupun Karin tidak mau melakukannya. Dan sekarang tamagochi itu nyaris mati.
“Kalau begitu ganti saja,” ucap Sou akhirnya.
“Bagaimana mungkin kau tidak mempedulikannya? Dia seperti anak ketigaku!” protes nyonya Takakura.
Sou akhirnya menutup telepon dengan paksa. Sementara itu di belakangnya, Maruo dengan tampak penasaran ingin tahu siapa yang selalu menelepon Sou dalam waktu-waktu tidak terduga seperti itu. Tapi Sou berkeras tidak mau membicarakannya.
Sou dan Maruo kembali ke posisi semula. Tiba-tiba sebuah tembakan mengarah pada mereka. Sou dan Maruo buru-buru bersembunyi. Rupanya ada yang mengetahui keberadaan mereka berdua di atas gedung itu untuk memata-matai Rossi.
Di kantor, detective Mikami marah besar karena Sou dan Maruo gagal menjalankan tugas. Sementara chef Ootomo berusaha menenangkannya. Sou dan Maruo malah pergi berdua.
“Kenapa kita disini?” protes Sou karena mereka tiba di depan apartemen tempat tinggal Yuki.
Maruo memberikan bet dan bola pingpong pada Sou. “Masuklah dan berikan itu pada Yuki.”
Sou bingung.
“Bukankah dulu pertama kali Yuki-chan memainkan itu ketika dia bosan?” Maruo masih saja memaksa Sou untuk masuk dan menemui Yuki.
Sou mengalah dan akhirnya datang menemui Yuki.
“Sou!” Yuki senang sekaligus salting.
Sou memberikan bet dan bola pingpong yang ia bawa pad Yuki. Tadinya ia akan beranjak pergi, tapi Yuki menahannya.
“Ah tunggu. Mau kubuatkan teh?” tawar Yuki.
Sou akhirnya kembali duduk. Ditemani secangkir teh keduanya mengobrol. Paling tidak kehadiran Sou kali ini bisa menghibur Yuki yang kesepian. Sou mengobrol bersama Yuki sebentar, lalu beranjak pergi.
Paginya, giliran Horikawa dan Maki yang menemui Yuki di lobby apartemen.
“Ah, Horikawa, kau sudah sembuh?” Tanya Yuki senang.
“Ah iya, ini berkat Maki-chan,” Horikawa tersenyum senang.
Tiba-tiba ada seorang bellboy yang datang mendekat. Ia memberikan secarik kertas pada Yuki. Yuki lalu membuka kertas itu dan mulai membaca. Suara lonceng natal terdengar, Yuki melihat sekeliling dan tiba-tiba . . . pingsan.
Kembali ke kepolisian pusat . . .
Meeting kembali diadakan. Detective Mikami memimpin meeting kali ini. Informasi mengenai transaksi yang melibatkan Rossi sudah diperoleh. Mereka membagi tugas penyergapan.
“Ah tunggu, apa memang benar kalau kedatangan Rossi ke jepang dalam rangka transaksi ini? Bukankah tidak mungkin, kalau dia punya motif lain?” protes Sou.
“Tidak penting apa misinya ke Jepang. Yang jelas saat ini kesempatan kita untuk menangkapnya,” elak detective Mikami.
Dokter Yuri menemani Yuki yang baru sadar di kamar apartemennya.
“Kau sudah ingat tempat pertemuannya kan?” Tanya dokter Yuri kemudian.
Yuki mengangguk menjawab pertanyaan dokter Yuri. Tapi dia tidak mengatakan dimana tempat itu.
Tiba-tiba detective Mikami menyerobot masuk. Mengetahui Yuki sudah mengingat tempat pertemuannya dengan Jinno, ia memaksa Yuki untuk mengatakannya. Tapi Yuki menolak dan mengatakan ia belum mengingatnya. Detective Mikami masih saja terus mendesaknya. Yuki ketakutan. Dokter Yuri pun berusaha melerai mereka. Sou dan Maruo yang mendengar kabar tentang Yuki menyusul datang.
“Ayo Yuki, ikut dengan kami,” tawar Maruo.
“Apa-apaan ini? Yuki akan tetap disini!” detective Mikami tidak terima.
“Karena permintaan saksi, mulai sekarang ia kembali dalam pelindungan kami,” sambung Sou.
Yuki mengangguk mengiyakan Sou dan Maruo. Detective Mikami tidak berkutik dengan keputusan Yuki.
“Ayo Yuki-chan,” ajak Maruo kemudian. Sou dan Maruo akhirnya membawa Yuki bersama mereka.
Satu hari menjelang Christmas Eve . . .
“Kalian pergi saja dulu, aku masih ada urusan,” ucap Sou kemudian meninggalkan Yuki dan Maruo dalam mobil dan beranjak pergi.
Melihat kepergian Sou, Maruo dan Yuki berpandangan. Mereka tersenyum.
Sou ternyata pulang ke rumah ibunya. Ia membantu ibunya dan adiknya, Karin menyusun pohon natal.
“Aku datang karena besok dan hari natal mungkin tidak bisa membantu, karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan,” ucap Sou pada ibunya.
“Tidak apa-apa, ibu senang kau sudah bisa mampir,” ucap nyonya Takakura senang.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Nyonya Takakura beranjak untuk membukakan pintu depan.
“Ah Sou-chan, ada tamu untukmu,” ucap nyonya Takakura kemudian.
Dibelakang nyonya Takakura ternyata muncul Maruo dan Yuki. Sou tentu saja kaget.
“Sou-chan? Hahahaha . . . “ Maruo mentertawakan panggilan Sou ketika dirumah. “Ah, perkenalkan aku Maruo, partner Sou di kepolisian. Dan ini Yuki-chan.”
“Ah Yuki-chan, apa kau pacar nee-chan?” sambung Karin.
“Ah itu bukan. Aku sudah bilang agar kami tidak usah datang, tapi Maruo memaksa. Maaf,” ucap Yuki malu-malu.
Sou yang tidak menyangka akan ada dua pengganggu yang datang ke rumahnya, memaksa mereka berdua untuk pergi. Ia merangkul keduanya dan berjalan ke arah pintu.
“Tunggu! Ini untuk kalian,” ucap nyonya Takakura memberikan jimat keberuntungan kepada Sou, Maruo dan Yuki. “Semoga besok akan baik-baik saja,” ucapnya sambil tersenyum. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, nyonya Takakura bisa merasakan apa yang tengah terjadi pada putranya itu.
Yuki, Sou dan Maruo akhirnya kembali ke apartemen mereka. Yuki dan Maruo duduk di sofa, sementara Sou beranjak masuk ke kamarnya.
“Ah sensei, bukankah kita bisa minum teh dulu bersama?” tawar Maruo.
“Besok kita akan sangat sibuk. Sebaiknya kalian istirahat dulu,” elak Sou melanjutkan langkahnya ke kamar.
Maruo dan Yuki memandangi Sou dalam diam. Keduanya pun akhirnya bubar ke kamar masing-masing. Yuki masih berpikir, tentang apa yang akan dilakukannya besok. Terutama janji temunya dengan Jinno.
Pagi harinya . . .
Tim investigasi khusus bersama dengan tim yang dipimpin oleh detective Mikami telah berbagi tugas. Mereka telah mengkonfirmasi tempat transaksi yang akan dilakukan.
Seperti biasa, Sou bermobil bersama Maruo. Sementara Maruo menyetir, Sou membolak-balik dokumen di depannya. Ia masih penasaran dengan motif sesungguhnya kedatangan Rossi ke Jepang.
“Kita berhenti dulu!” pinta Sou yang dituruti oleh Maruo. Sou rupanya menemukan sebuah fakta yang tidak disadari oleh detective Mikami. Sou menghubungi chef Ootomo yang berada di kantor. “Sekarang aku tahu apa motif sesungguhnya kedatangan Rossi ke Jepang. Ia menghadiri konser music klasik dengan musisi tamu seorang wanita. Dan itu adalah putrinya, Nina Belanini. Ia mengubah namanya setelah menikah,” papar Sou.
“Baik aku mengerti. Aku akan menarik semua personil dari posnya dan menempatkannya di tempat konser,” ucap chef Ootomo tanggap.
“Putar balik, kita menuju tempat konser itu!” pinta Sou kemudian.
Di sebuah gedung . . .
Rossi duduk sendirian. Sementar itu di panggung, tampak pemain music lengkap, dan tidak lama kemudian datang seorang wanita yang merupakan pianis utama. Ia menunduk member salam dan tersenyum manis sebelum memulai konser. Rossi memandang wanita yang ternyata putrinya itu dengan senang.
Di tempat lain . . .
Detective Mikami dan anak buahnya berhasil menggagalkan transaksi narkoba yang dilakukan sindikat mafia internasional itu. Tapi ia heran, karena tidak ada satupun tim dari investigasi khusus yang berada di pos mereka.
“Apa yang sebenarnya mereka pikirkan?!” detective Mikami geram.
Kembali ke gedung pertunjukan . . .
Jinno benar-benar punya rencana lain. Bersama anak buahnya ia berjalan memasuki gedung pertunjukkan itu.
Rupanya tujuan utama Jinno adalah membunuh Rossi. Seorang penembak jitu anak buahnya sudah menyamar sebagai petugas kebersihan dan masuk ruang konser. Ia merangkai senapan yang akan digunakan untuk membunuh Rossi dan mulai membidik.
Sou, Maruo dan tim investigasi khusus yang lain tiba tepat waktu. Sou segera masuk ruang konser. Ia melihat sekeliling, hingga akhirnya melihat sebagian moncong senjata yang sudah siap ditembakkan.
Bergeges Sou mendekati si penembak jitu, dan ia berhasil menggagalkan dan melumpuhkan si penembak jitu itu. Akibat suara tembakan, para penonton kaget. Mereka berhamburan keluar ruangan untuk menyelamatkan diri. Melihat keadaan tidak menguntungkan, petugas lampu akhirnya menyalakan lampu seluruh ruang konser.
Sou turun kembali ke ruang konser. Ia melihat sekeliling, hingga akhirnya menemukan sosok Jinno yang sedang berdiri di sebuah ruang kendali siaran melihat kearahnya.
“Ganti ke rencana B,” ucap Jinno pada anak buahnya, tapi tidak mengalihkan tatapan matanya ke arah Sou.
Bersama anak buahnya, Rossi berusaha melarikan diri. Tapi Maijima-san sudah menunggunya di bawah tangga. Tadinya Maijima-san terdesak karena 3 lawan satu, hingga datang Suzu-san membantunya.
Akhirnya mereka berhasil melumpuhkan dan menangkap Rossi. Nice catching tim investigasi khusus ^_^
Sou berusaha mengejar Jinno. Di jalan Sou mesti berhadapan dengan beberapa anak buah Jinno. Nyaris terpojokkan, Maruo datang untuk membantunya.
Tiba-tiba ponsel Sou berbunyi. Ia mengangkatnya, dari dokter Yuri.
“Sou, sepertinya Yuki ingat tempat pertemuannya dengan Jinno,” ucap dokter Yuri yang menemukan pesan dalam kertas di apartemen Yuki.
Sou kaget mendengar berita dari dokter Yuri itu. Sementara itu, di tempat lain, Yuki tengah berjalan sendirian. Ia menuju tempat janji pertemuannya dengan Jinno di Christmas Eve kali ini.
Teng . . . teng . . . teng . . .
Suara lonceng mengiringi nyala lampu di sebuah pohon natal besar di sebuah taman. Rupanya di tempat ini Yuki dan Jinno pernah bertemu dan berjanji untuk bertemu lagi.
Masih diiringi suara lonceng, Yuki berjalan mendekat. Tidak jauh di depannya, tampak Jinno yang rapi dengan jas hitamnya juga berjalan mendekat.
“Jinno-san,” desis Yuki. “Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?”
Jinno lalu menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Waktu itu, dalam rangka mengungkap anak buahnya yang berkhianat, Jinno berpura-pura diserang dan meninggal. Mereka tidak menyangka kalau ternyata juga ada Yuki di tempat itu. Demi menyelesaikan rencana yang telah dibuat, anak buah Jinno membawa Yuki pergi. Meski akhirnya harus membawa Yuki ke tempat transaksi a.k melibatkan Yuki. Ternyata efek peristiwa itu tidak disangka, Yuki kehilangan ingatannya.
“Jadi benar kau seorang bos mafia?” Yuki menyimpulkan.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Kau orang pertama yang aku percayai,” ucap Jinno
Sou dan Maruo yang mendapat kabar dan tempat pertemuan Yuki dan Jinno dari dokter Yuri, segera menyusul. Mereka berkendara berdua.
“Jika Jinno berhasil membunuh Rossi mala mini, berarti rencana mereka berhasil. Itulah kenapa ia membuat janji dengan Yuki-chan pada Christmas Eve,” gumam Maruo yang diiyakan oleh Sou. “Apa dia hidup demi mencapai hari ini?”
“Aku juga,” ucap Sou yakin.
Jinno meminta Yuki untuk kembali padanya. Ia juga meminta Yuki melupakan kedua polisi yang selama ini bersamanya. Tapi Yuki menolak.
Tidak lama sesudahnya, Sou dan Maruo pun akhirny tiba.
“Jadi, kau lebih memilih mereka, daripada aku?” Tanya Jinno, yang kemudian mengeluarkan senjata dari jasnya.
“Semua sudah berakhir Jinno,” ucap Sou yang juga menodongkan senjata ke arah Jinno.
Jinno tertawa, “Aku musuh ayahmu. Kalimat yang sangat manis.”
“Aku telah memburumu selama ini. Setelah semua ini, aku hanya berpikir untuk menangkapmu,” ucap Sou.
“Tentu saja aku tahu hal itu. Ayahmu juga keras kepala. Tapi aku juga harus berterimakasih padamu, karena selama ini telah menjaga Yuki,” ujar Jinno lagi.
“Jangan bercanda denganku!” bentak Sou.
“Aku tidak bercanda! Aku serius!” balas Jinno.
“Tujuh belas tahun yang lalu. Kau mengambil hal yang sangat berharga dalam hidupku (ayah). Aku tidak akan membiarkanmu . . . mengambil orang yang paling penting dalam hidupku lagi (? Yuki-chan?). menyerahlah, Jinno!” gertak Sou.
“Aku tidak akan menyerahkan Yuki pada siapapun!” balas Jinno.
Dor! Dor!
Suara tembakan terdengar. Maruo melindungi Yuki dan menyeretnya menyingkir. Sementara itu peluru yang ditembakkan Jinno mengenai Sou.
“Sou, sou . . . apa kau baik-baik saja?” Yuki khawatir.
“Sensei, sensei . . . “ Maruo lalu meraba jas Sou, dan menemukan darah disana. Sou benar-benar tertembak.
Di seberang, tampak Jinno yang juga tengah bersembunyi. Ia mengamati apa yang terjadi di seberang lagi.
Melihat senseinya terluka, Maruo tidak sabar. Ia kembali memberondongkan peluru ke arah Jinno. Maruo juga tertembak.
“Jinno-san, berhenti!” pinta Yuki menangis melihat kedua pelindungnya ini terluka.
Sou yang lengan kirinya tertembak berusaha bangun. Ia tidak membiarkan Yuki dan Maruo dalam bahanya. “Yuki minggir!”
Akhirnya adu tembak secara langsung terjadi. Sou maupun Jinno melepaskan tembakan ke arah lawan masing-masing. Hingga akhirnya keduanya terluka dan terkapar di lantai.
Dengan susah payah Sou mendekat ke arah Jinno. Setelah membuang senjata Jinno, Sou berusaha meraih lengan Jinno. Dengan sedikit pergumulan, Sou akhirnya berhasil membuktikan bekas luka di lengan Jinno. Luka yang sama dengan orang yang telah membunuh ayahnya 17 tahun yang lalu.
Setelah memborgol tangan Jinno, Sou akhirnya ikut terkapr di samping JInno.
Beberapa waktu kemudian . . .
Sou telah pulih. Dan ia pun diminta kembali ke NYPD. Kali ini ia pamit kepada tim investigasi khusus dan chef Ootomo.
“Terimakasih untuk kerja keras kalian,” ucap Sou senang.
Suasana berubah lebih hangat setelah semua peristiwa yang berhubungan dengan Jinno ini. Setiap personil mengucapkan selamat pada Sou yang akan kembali ke NY.
“Sensei . . . aku akan menikah dengan Maki,” ucap Horikawa sok serius, yang ditanggapi tawa oleh yang lain.
Tidak ketinggalan Maijima-san, ia mendekat ke arah Sou, “Aku . . . tertarik padamu,” ucapnya malu-malu.
Kontan rekan-rekannya yang lain tertawa heboh.
“Sebagai seorang detective,” kilah Maijima-san kemudian.
Sou hanya tersenyum menanggapi ucapan rekan-rekannya ini. (aih . . . gitu donk, senyum. Kan jadi keliatan manis)
Maruo dan Yuki mengantar Sou yang akan kembali ke NY di bandara.
“Ini sudah cukup. Pulanglah,” pinta Sou pada Maruo dan Yuki.
“Apa? Kami disini mengantar kepergianmu. Jadi mungkin akan ada air mata,” ucap Maruo.
“Aku tidak melakukan hal seperti itu (menangis),” kilah Sou.
“Kalau dia bilang begitu, ayo Maruo,” Yuki mengajak Maruo untuk pulang.
“Sensei! Kalau kau tidak mendapatkan partner di NY, kau bisa menghubungi aku,” tawar Maruo.
“Maaf, tapi aku tidak ingin berpartner denganmu lagi,” ujar Sou.
Maruo mengingat flash back mereka berdua. Kekonyolan demi kekonyolan dan berdebat di tengah investigasi. Maruo speechless sendiri.
“Kalau kau rindu masakanku, kau bisa menghubungiku,” sambung Yuki pula.
“Masakanku lebih enak,” kilah Sou pula.
Yuki mengingat waktu-waktu yang telah mereka habiskan bersama. Ia tersenyum.
“Aku pikir, aku tidak menyukaimu,” ucap Maruo.
“Aku juga,” balas Sou sambil tersenyum.
Sou juga mengingat momen-momen kebersamaan mereka bertiga. Mereka bertiga tersenyum bersama. Hingga pengumuman persiapan keberangkatan pesawat terdengar, mengganggu waktu kebersamaan mereka ini.
“Sudah waktunya,” Sou lalu beranjak pergi.
“Ah Yuki-chan, apa tidak apa-apa?” Tanya Maruo. (membiarkan SOu pergi seperti itu)
Yuki lalu berlari menuju Sou. Ia mendekati Sou dari belakang dan berniat untuk memeluknya, tapi . . . reflek Sou membuatnya malah . . . membanting Yuki. Brug!
“Aduh, dia membantingku lagi. Meski aku wanita,” keluh Yuki.
Sou kaget karena yang dibantingnya adalah Yuki, “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menyentuhku dari belakang!”
“Hei!” Maruo berlari mendekat. “Bukankah itu luar biasa? Bagaimana kalau kita melakukannya lagi? Ayo pulang,” rengek Maruo.
Dan Sou yang tidak terima dengan ucapan Maruo malah menyulut perdebatan. Akhirnya mereka malah berdebat tidak jelas seperti biasa. Bukannya menolong Yuki yang jatuh ke lantai.
“Cukup, hentikan!” pinta Yuki.
“Sudah, aku pergi,” ucap Sou.
Sou kembali berjalan. Tapi betapa kagetnya dia karena kopernya tidak ada. Sou kesal dan melihat sekeliling. Tidak jauh dari sana, tampak seorang laki-laki tengah membawa koper Sou dengan santainya.
“Hei!” Sou mengeluarkan senjata dan mulai berlari mengejar laki-laki itu.
Maruo yang berada di dekatnya ikut berlari. “Jangan gunakan senjata di tempat seperti ini! Orang amerika!”
Sementara itu, Yuki hanya tersenyum melihat ulah mereka berdua ini.

~~~~~~~~~~~

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s